Derita Bulan Maret
Minggu-minggu
ini aku sering merasakan kegelisahan, entah apa yang aku rasakan itu, bingung
untuk bisa mendeskripsikannya. Bulan Maret ini, penuh dengan misteri-misteri
dalam hati, bukan hanya hati saja yang dipenuhi misteri, kehidupan sBulan ini, bulan penuh pikiran. Adikku telah kehilangan uang yang tidak sedikit jumlahnya untuk keluarga kami. Harusnya uang tersebut digunakan untuk bayar ujian, namun apa yang terjadi? Sudah dapat ditebak dalam kalimat kedua. Pastilah dia stres tingkat tinggi. Aku tak tega mendengar kabar ini. Dia menduga, pasti diambil oleh emak kami. Bukan bermaksud apa, tapi memang emak mengalami gangguan jiwa, apalagi saat ini aku sedang merantau berfoya-foya tanpa pernah memberi kabar kepada beliau -Emak maafkan aku- walau semenit dengan gadget ini. Beliau sebenarnya sedang merasakan kesepian yang mendalam pastinya. Adikku marah tidak karuan, uang tersebut bukan uangnya, dia mencoba menjelaskannya padaku lewat tulisan di media social. Aku tahu melalui gaya bahasa yang dilontarkannya kepadaku, pasti marah besar. “Itu bukan uangku, uang orang, yang harus kugunakan untuk bayar ujian!”. “Mungin kau teledor menaruh uang tersebut”, kataku lewat balasan tulisan. “Teledor bagaimana? Tidak mungkin, lha wong tak taruh di kamar kok bisa hilang. Kalo bukan emakmu siapa lagi!”, ketus adikku. Aku hanya mampu merenungkannya saja, apakah emak sudah separah itu hingga beliau melakukan hal seburuk itu. Ah, positive thinking harus ku kedepankan. “Ya sudah, nanti akhir bulan aku ganti, ketika uangku sudah cair”, kataku untuk menenangkan hati adikku. Hingga saat ini, h-3 ujian, aku belum bisa mengirimkan uang yang ia minta. Pantaskah aku untuk diandalkan? Shiiiiit….! How Fuck I am!.
Kali
ini aku mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan lagi, tetap pada bulan yang
sama. Maret. Sudah sekian hari aku tidak mendengar kabar dari sahabat pertama
yang kukenal waktu PMB. Sekitar satu minggu ia tidak terlihat dalam dunia
perkuliahan. Aku mendapat kabar kalau ia sedang pulang kampung dari teman satu
kontrakannya. Aku pun langsung berpikiran positip, “Mungkin dia sedang kangen
dengan keluarganya, sehingga ia pulang kampung”. Firasatku pun sudah membaik
tentang dirinya pada saat mendengar kabar tersebut. Namun, setelah beberapa
hari tetap saja tidak ada kabar tentangnya, sahabatku yang notabene sangat
dekat dulunya memberikan kabar tentang sahabatku yang tidak ada kabar ini. “Dia
sakit kang, sakit maag”. Aaaagghhh… kejam sekali diriku ini yang tidak tahu
kabar dari sahabat sendiri. Betapa rendah derajat yang kumiliki, dulu ia dengan
sigap langsung mencariku ketika aku sedang sakit, dan kini baru setelah dia
opname aku baru tahu. Aaaaghhh, memang tak layaklah diri ini untuk bisa
menerima gelar sebagai sahabatnya. “Ya Allah, berikanlah kesembuhan padanya.
Berikanlah ampunan kepadanya, berikanlah umur panjang kepadanya, jangan kau
buat keluarganya menangis karena penyakitnya Ya Allah”, dalam hati kuberdoa.
Setelah pulang kuliah, langsung saja aku mencoba menanyakan kabarnya langsung.
“Ping..!”. Lama tak ada balasan, menandakan kalau dia sedang istirahat. Siang
harinya ada pesan masuk. “Ada apa Dam?”, tanya dia. “Wuish, aman ndak Dik?”,
tanyaku balik. Lama saling kirim pesan, akhirnya kudapat kabar kalau keadaannya
agak baikkan. Yah, akupun tak tahu yang sebenarnya terjadi, apa benar-benar
sudah baik, ataukan masih dalam tahap pemulihan, atau masih sama seperti masuk pertama.
Mungkin dia sedang menghiburku agar tidak memikirnya terlalu dalam. “Ya Allah,
hamba memang benar-benar makhluk hina yang terhina dari semua makhluk, hamba
tidak tahu apa yang harus hamba perbuat. Berikanlah setidaknya pemikiran apa
yang langkah terbaik yang harus hamba lakukan agar sahabat saya ini tidak
menderita”. Hingga saat ini, masih belum aku dengar kabar baiknya.
Bulan
Maret, oh Bulan Maret. Betapa dirimu menyusahkan, meresahkan, menderitakan
hatiku. Kau kocak-kocak, hancur lebur ratakan hati ini hingga tak tersisa. Dua
kabar tersebut masih belum seberapa, Dalam detik-detik terakhir dari bulan ini,
ada kabar paling membuat hati ini teriris. Lagi-lagi sahabatku yang terkena
musibah. Mengapa? Hanya mengapa yang aku tanyakan, dunia ini memang tak adil
jika hanya aku yang melihat. Sahabat yang ini, bukan sekedar sahabat, namun
sudah kuanggap keluarga sendiri. Dia yang dulu pertama kali merawatku ketika
sakit, dia yang khawatir kalau aku ada apa-apa, dia yang takut kalau aku sakit
lagi ketika belum makan. Dia, ya dialah yang tidak bisa kujelaskan dengan
kata-kata. Dalam perjalanan pulang kuliah, dia bercerita, “Kang, ternyata
penyakit itu ndka bisa disangka-sangka ya”. Aku bingung dengan perkataannya,
aku kira dia menceritakan permasalahan sahabatkku Dika, “Lah kok gitu? Memang
kenapa?”. “Kemarin, waktu aku sedang ganti baju, tiba-tiba orangtuaku stroke”,
katanya masih dalam keadaan fokus mengendarai motor. Jleb, diar, dor dor….
Hatiku kaget, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Hatiku, hatiku
yang menjerit. Aku tidak percaya akan hal ini. Diapun terdiam cukup lama, lalu
berkata lirih, “Apa stroke itu bisa sembuh kang?”. Ah, pertanyaan yang sungguh
sulit kujawab dengan tegas. Berdasarkan apa yang pernah aku lihat, sulit untuk
bisa sembuh dari stroke. “Yakinlah, pasti bisa. Yang penting yakin”, jawabku
dengan nada pelan. “Doakan ya Kang”, katanya dengan sekuat hati. Kamipun
berdiam cukup lama, cobaan yang ia terima sungguh berat. Uang kosannya belum
terbayar, sekarang ada cobaan lain. Diapun mengalihkan pembicaraan ketika kami
sudah cukup lama diam. Terlihat dari logat bicaranya, cara tertawanya yang
terpaksa -aku teriris kawan. Aku takut dengan keadaanmu juga. Aku diam itu bukan
sekedar diam- hingga kami sampai ke kontrakanku. Dia malah memberikanku sebuah
srikaya, entah apa maksudnya, aku bertambah bingung. “Ya Allah, aku bingung,
sungguh bingung. Tak tahu harus ku akhiri tulisan ini dengan apa? Apakah harus
kusalah Engkau? Ataukah harus kuakhiri dengan kebohongan agar ending dari
tulisan ini bahagia? Ya Allah, tetap saja aku berdoa kepadamu agar semua
sahabat-sahabatku, terutama kedua sahabatku ini serta satu sahabatku lain mendapatkan
kebahagiaan esok, setelah berganti bulan. Bulan Maret, akan kuingat kau sebagai
Bulan Derita!
Semarang,
31 Maret 2016
Komentar