Jari Manis Tak Lagi Manis

     Sudahkah kita bersyukur hari ini? Sebuah pertanyaan yang sebenarnya sangat mudah untuk dijawab, namun sayangnya masih banyak orang yang diam menunduk ketika ditanya seperti ini. Bahkan aku sendiri sebagai penulispun merasa terheran-heran, mengapa aku tidak bisa menjawab pertanyaan ini? Bukankah rasa syukur itu cukup dengan mengucapkan hamdalah saja bagi umat muslim, dan mengucapkan syukur bagi umat lain. Hmm, ternyata aku salah besar, bersyukur memang diawali dengan hal seperti itu, namun bukankah dengan hanya seperti itu rasa syukur kita hanya sampai tenggorokan saja? Kemudian muntah lagi ketika kita tidak berbuat kebaikan untuk mensyukuri nikmat. Inilah yang bisa kita jadikan renungan. 
     Hari ini benar saja, aku masih kurang bersyukur dengan jari-jariku selama ini. Terjadi sesuatu yang sangat tidak aku inginkan. Jari manis yang seharusnya sangat manis ketika dipakaikan cincin, harus rela menunggu waktu yang lama untuk terlihat manis kembali. Mungkin rasa syukurku berkurang, atau mungkin ini adalah sebuah nikmat penghapus dosaku. Keyakinanku berkata bahwasannya ini adalah adzab bagiku karena kurang bersyukur. Selama sebulan ini aku tidak pernah menggunakan jari-jariku untuk melakukan kebaikan. Keburukan selalu menyelimuti jari-jari ini, mulai dari yang ringan hingga paling berat. Jail dengan teman, aku menggunakan jari-jariku untuk menjaili mereka. Menyontek, mencuri bolpen, mengambil sesuatu yang bukan milikku, tidak mau berbagi, itu semua karena jariku yang melakukannya. Bahkan kasus yang paling berat menurutku adalah, jari-jari ini tidak pernah kugunakan untuk berdzikir, membuka lembaran Al-Quran, aku angkat ketika takbiratul ikhram. Sangat berat bukan? Maka dari itu marilah kita tundukan kepala sejenak, siapapun kalian, beragama apapun kalian, dari ras manapun kalian, aku secara pribadi mengajak diri sendiri sekaligus mengajak kalian para pembaca blog ini untuk bersyukur, ucapkan hamdalah saat ini juga bagi pemeluk agama islam dan mengikuti dengan cara kalian sendiri bagi yang non muslim. Renungkan, apa yang telah kalian lakukan dengan jari-jari tersebut. Terlalu banyak keburukankah? Atau kebaikan yang selalu mengikutinya? 
   
   Jangan bertanya apakah Tuhan masih memberikan ampunan kepadamu. Jangan, saya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa Tuhanku, Tuhanmu memiliki sifat Yang Maha Pemberi Ampunan. Rawatlah organ-organ tubuh yang telah diberikan Tuhan kepadamu, itu juga termasuk rasasyukur. Kau menjaga barang titipan-Nya, pernahkah kalian berpikir jika Tuhan tidak memberikan organ tersebut, apa yang akan terjadi? bisa kalian bayangkan sendiri kesusahan yang akan kita hadapi. Maka dari itu, sekali lagi saya menekankan kepada diri sendiri sekaligus para pembaca untuk merenungkan ini sejenak. Tidak bermaksud untuk sok bijak maupun pikiran negatif lainnya yang kalian bayangkan, namun ini merupakan refleksi diri saya sendiri karena telah kufur terhadap nikmat yang telah diberikan kepada saya. Semoga tulisan singkat ini masih bisa menjadi dorongan bagi kalian untuk mau bersyukur. Alhamdulillah.....

Komentar