Pilkada DKI serasa Pilpres
Semalam telah dilakukan sebuah ajang yang sangat bergengsi di Jakarta (tentu saja kalian sudah mengetahui apa yang saya maksudkan) dengan menghadirkan calon-calon pelayan warga Jakarta. Seru sekali memang jika ajang ini dilihat oleh orang awam, namun akan dianggap sangat mengocok perut apabila yang menonton adalah orang ahli politik. Bagaimana tidak? Kebanyakan ajang tersebut adalah merendahkan lawan-lawannya dengan sindiran maupun sarkas yang harus memang dipahami secara detail.
Salah satunya menyindir dan nyinyir dengan kasus-kasus yang dialami musuhnya, sedangkan musuhnya atau calon lain sinis dengan retorika yang selalu ia bantahkan. Ah, mau bagaimana lagi, kedudukan di ibukota itu memang sangat stategis untuk golongan-golongan mereka, ujung-ujungnya juga bakal menyengsarakan rakyat kok. Sang petahana akan mengikis kehidupan para nelayan, sedangkan lawan tidak akan memperhatikan rakyat kecil. Iyakan? salahkah saya jika saya berpendapat seperti itu?
Dari awal debat hingga final, isi dari debatnya hanyalah retorika semata, bahkan sedikit sekali program kerja yang mereka jelaskan. Petahana tetap dengan omongannya yang akan melanjutkan program kerja yang lalu, sedangkan mantan menteri memberikan retorika program kerja. Aaaaaah, memuakkan sekali. Tapi aku kagum dengan mereka, berani dengan yakin bahwa masing-masing dari mereka tetap kokoh berdiri diatas.
Yah, over all aku hanyalah seorang rakyat kecil saja. Jadi tidak ada hak untuk mengomentari orang-orang atas. Semoga saja apa yang menjadi pilihan orang-orang Jakarta akan sangat berdampak kebaikan untuk para rakyat kecil. Saya yang bukan warga Jakarta hanya bisa ikut mendoakan semoga pemimpinnya amanah. amin.
Salah satunya menyindir dan nyinyir dengan kasus-kasus yang dialami musuhnya, sedangkan musuhnya atau calon lain sinis dengan retorika yang selalu ia bantahkan. Ah, mau bagaimana lagi, kedudukan di ibukota itu memang sangat stategis untuk golongan-golongan mereka, ujung-ujungnya juga bakal menyengsarakan rakyat kok. Sang petahana akan mengikis kehidupan para nelayan, sedangkan lawan tidak akan memperhatikan rakyat kecil. Iyakan? salahkah saya jika saya berpendapat seperti itu?
Dari awal debat hingga final, isi dari debatnya hanyalah retorika semata, bahkan sedikit sekali program kerja yang mereka jelaskan. Petahana tetap dengan omongannya yang akan melanjutkan program kerja yang lalu, sedangkan mantan menteri memberikan retorika program kerja. Aaaaaah, memuakkan sekali. Tapi aku kagum dengan mereka, berani dengan yakin bahwa masing-masing dari mereka tetap kokoh berdiri diatas.
Yah, over all aku hanyalah seorang rakyat kecil saja. Jadi tidak ada hak untuk mengomentari orang-orang atas. Semoga saja apa yang menjadi pilihan orang-orang Jakarta akan sangat berdampak kebaikan untuk para rakyat kecil. Saya yang bukan warga Jakarta hanya bisa ikut mendoakan semoga pemimpinnya amanah. amin.
Komentar