Kesedihan Sang Adik
Desember merupakan bulan-bulan yang
menyibukkan. Seorang adik merengek menarik-narik kain ibunya yang sedang
mencuci piring. “Buk, Mas e nakal. Masak aku digodain terus. Padahal aku pengen
belajar buat ujian minggu depan”, rengek adik. Wanita yang sedikit tua raut
wajahnya tersebut tersenyum. Senyum tersebut bukan pertanda bahagia, namun
senyum penuh prasangka. Akankah sang adik terus bersikap seperti itu? Ataukah
setelah lulus SD sifat manjanya akan sirna? Wanita tersebut meetakkan piring
yang ia cuci lalu membasuh tangannya. Diraihnya badan mungil menggemaskan,
diciumnya pipi bakpau anak bungsunya tersebut. “Aduh… anak ibuk yang paling
nggemesin, siapa yang berani mengganggunya? Tak sentil lho kupingnya nanti”,
kata wanita setengah tua dengan logat memanjakan anak.
Tubuh mungil yang menggemaskan
tersebut ia gendong menuju ruang tamu. “Ini tho Mas e yang nakal. Huh, huh,
huh, kapok ndak kamu mas?”. Wanita tersebut menghibur sang adik dengan
memukul-mukul pundak seoang lelaki berkisar umur 15 tahunan dengan lembut. “Ampun
buk, ampun”, jawab lelaki tersebut dengan senyum ringan. “Sukurin”, sang adik
menimpali. Wanita setengah tua itu lalu duduk di lantai dekat meja belajar
sembari membuka buku tulis dan memegangkan pensil kepada adik. Benar-benar
bulan Desember yang menyibukkan.
Keluarga tersebut hanya terdiri dari
3 anggota yakni Ibu, Kakak dan Adik. Ayah dari kedua anak tersebut sekaligus
suami dari si ibu telah meninggalkan mereka. Tidak jelas kabar yang beredar
mengenai keberadaan lelaki tulang punggung keluarga tersebut. Ada yang bilang
meninggal di perantauan, ada juga yang bilang punya istri lagi disana. Namun
wanita setengah tua tersebut tak mengiraukan kabar dari keduanya. Ia tetap
berdoa kepada Tuhan agar suaminya kembali dengan keadaan sehat tak kurang dan
tak lebih. Ketegaran hati wanita itutak perlu dipertanyakan lagi. Untuk
memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari ia menjalankan sebuah usaha
perdagangan. Berkat ketekunan dan doa yang tulus, usaha tersebut berkembang
pesat. Sekarang ia mampu merekrut karyawan untuk menjaga usaha yang ia
jalankan.
“Buk, buk. Ini jawabannya berapa?
Masih bingung aku”, tanya si kecil bertubuh gendut sambil menggaruk kepala.
“Tut… tut… tut…”. Dering telepon berbunyi. “Bentar ya, ibuk mau angkat telepon
dulu. Mas, tolong ajarin adek ya. Jangan berantem lho”, suruh ibu kepada kakak.
“Oke buk, kalem aja”, sahut kakak. “Mana, mana soalnya? Biar mas yang ajarin
adek sampe bisa. Bahkan sampe gendutnya ibuk ini hapal, kalo ngerjain ntar gak
perlu buka mata. Hehehe”, gurau kakak dengan wajah meyakinkan.
“Assalamu ‘alaikum, iya saya
sendiri. Apa? Astaghfirullah, Gimana keadaannya? Di ruang berapa? Oke saya
kesana”. Hati sang ibu gelisah, gundah tak tahu harus bagaimana. Hujan deras
dengan kilat yang menyambar-nyambar menambah suasana hati ibu menjadi resah.
Tetesan air matapun keluar dari sudut matanya. Mulut yang hamper mengeluarkan
suara sesenggukan ia tutupi dengan tangan agar anak-anaknya tak mendengar kalau
dirinya menangis. Ia terduduk di bawah meja telepon menahan luapan bendungan
air mata. Kemudian ia bangkit menuju kamar mandi, membasuh muka untuk
menyamarkan wajah kesedihan mendalam dari kedua anaknya.
“Nah, mudahkan caranya. Siapa dulu
yang ngajarin, Mas Gitu loh”, kata kakak penuh kebanggaan. “Halah… cara ibuk
malah lebih gampang, cepet dipahami”, ketus sang adik sembari membereskan buku
dan pensilnya. “Mas, kamu jaga adekya. Ibuk mau keluar sebentar”, kata ibu
tergesa-gesa sambil mengenakan jas hujan. “Lah ibuk mau kemana? Hujan deras lho
buk”, tanya kakak. “Mau ikut Buk e, ikut Buk e”, sang adik rewel. Ibuk tak
mempedulikan rewelan anak bungsunya tersebut, ia bergegas keluar rumah
menyalakan motor. Sejenak ia pandangi wajah anak terakhirnya yang menagis di
pelukan kakaknya. Terasa nyeri di hati semakin menghujam. Lalu ia jalankan
motornya menembus derasnya hujan yang sangat menghalangi pandangan mata.
Dua jam berlalu, tak ada tanda-tanda
hujan akan berhenti. Air got mulai meluap, menggenangi halaman rumah. Sang adik
gelisah dalam pelukan kakak di kamar tidur. “Mas, kok Buk e belum pulang yah?
Susul Buk e yok mas”, kata adik. Kakak perlahan membuka matanya, memandangi
raut wajah adikny yang sangat terlihat jelas kegelisahannya. Tiba-tiba air mata
mengalir dari mata adiknya. Adik menangis, tapi tak seperti biasanya yang
diikuti suara tangisan kencang. Lelaki yang hamper lulus SMP itupun bangkit
dari kasurnya, menggendong adiknya dan mengusap air mata yang mengalir di pipi
bakpaunya. “Mas, kok Buk e lama ya. Susul yok Mas, susul Buk e”. Sang adik tiba-tiba
menjadi rewel. Deg, ada firasat buruk terlintas di pikiran kakak. “Iya dek,
nunggu hujan reda ya, kalau udah reda ntar kita susul Buk e. Buk e pasti juga
lagi neduh di toko kok”, jawab kakak untuk menenangkan kegelisahan adik. Lalu,
si kecil menangis, kali ini ada suaranya namun pelan. Ia menanggis di pundak
kakaknya. Suara tangisan itu mengiris hati kakak. “Ya Allah, semoga Ibuk
baik-baik saja”, batin kakak.
Menjelang maghrib hujan benar-benar
reda. Si mungil gendut sudah terlelap sejak ashar tadi. Dua orang tetangga
terdengar mengetuk pintu rumah mereka. Kakak yang masih gelisah bangkit dari
kasur membukakan pintu untuk tamu. “Oh, De Bejo sama Lik Parman. Tumben, ada
apa ya? Eh, masuk dulu Pakde sama Paklik, tak buatin teh anget”, kata kakak kepada
tamu. Tiba-tiba salah seorang tamu memeluk kakak erat sekali lalu menangis.
“Kamu yang tabah ya Le, jaga adekmu, jangan lupa sholatnya juga, berdo’a supaya
hidupmu berkah. Pokok e kamu kudu yang tabah ya”. Duar… perkataan tamu tersebut
membuat hati kakak tersayat. Ia meneteskan air mata lalu terduduk lemas.
Ibu kedua anak itu mengalami
kecelakaan hebat. Ia menabrak truk yang sedang melintas di perempatan jalan.
Kecepatan tinggi dan keresahan yang mendalam mendengar kabar suaminya ditemukan
meninggal dunia membuatnya tak peduli dengan kendaraan lain. Penantian lama
yang ia nanti-nantikan agar bisa bertemu dengan suaminya untuk terakhir kalinya
sirna. Ia menyusul suaminya di surga nan indah meninggalkan anak-anaknya,
terutama si bungsu yang masih bermanja padanya. Genangan hujan menjadi saksi
kenangan yang menghujam hati. Saat kecelakan berlangsung, tak ada orang yang
menolongnya. Bahkan truk yang ia tabrakpun pergi meninggalkannya di jalanan.
Terlambatnya ia dibawa ke rumah sakit mengakibatkan ia tewas di tempat. Sungguh
naas sekali.
Tiba-tiba adik berlari dari sudut
pintu ruang tamu menuju kakaknya. “Mas, Buk’e kenapa mas? Buk’e kenapa? Pakde,
Buk’e kenapa? Paklik..?”. Suara tangisan sang adik memenuhi ruangan. Seseorang
yang dipanggil Paklik bergegas memeluk sang adik erat-erat mencoba menenangkan
tangisannya yang sangat terasa menyayat hati bagi semua orang yang
mendengarnya. Tidak dipungkiri bahwasannya tangisan anak kecil yang benar-benar
dari hati tidak ingin didengar oleh orang-orang dewasa karena sentuhannya yang
sangat terasa. Oleh karena itu, sang kakak mencoba tegar lalu bangkit,
diraihnya tubuh mungil yang dalam pelukan Pakliknya. Ia mencoba untuk menghapus
kesedihan sang adik.
Komentar