Khawatirku Yang Berlebih

Ramadhan hari keempat, rasanya badanku terasa kurang nyaman. Sakit yang sudah terasa di awal puasa hingga sekarang yang masih belum juga kunjung sembuh membuat pikiran tak bisa berpikir jernih. Kau masih dengan sikapmu yang dingin seperti itu, dan aku yang masih saja terlalu cemburuan. Rasa cemburu yang  dibarengi dengan rasa sakit membuatku berpikir terlalu jauh. Aku berpikir apakah aku bisa menepati komitmenku untuk bisa melamarmu tahun depan. 

Bahkan aku berpikir saat ini dengan keadaanku yang saldo ATMnya saja sudah nol -bisa dibilang itu sudah minus karena terpotong admin bulanan- apakah mampu untuk menghidupimu kelak dengan layak. Aku berpikir terlalu jauh. Maafkan aku, aku hanya ingin engkau tahu bahwa tidak semua yang aku ucapkan berasal dari hatiku, kadang berasal dari emosi yang keluar karena rasa khawatir yang berlebih.
Bahkan aku ceroboh hingga melakukan tindakan konyol atas rasa khawatirku sendiri. Kemungkinan juga karena rasa jengkelku yang sudah menumpuk terlalu banyak atas ejekanmu padaku yang mengatakan bahwa aku terlalu buncit, aku terlalu lemah, dll hingga aku berpikir bahwa aku terlalu rendah untuk dirimu yang sempurna. 
Iya, aku merasa tidak layak untuk kau cintai. Kau adalah ratu dengan segala kelebihan yang menyelimutimu, aku? Hanya seorang pengelana yang tak punya ambisi. Kau terlalu tinggi untuk bisa aku raih. Kau cerdas, kau cantik, kau tinggi, kau langsing, dan segala kelebihan ada padamu. Bahkan, jika dibandingkan antara gajiku dan gajimu sudah bisa dipastikan sangat jauh terpautnya. 
Dari gajiku, aku hanya bisa hidup serba pas-pasan. Bukan hanya pas-pasan, cenderung aku press semua agar aku masih bisa menabung untuk meminangmu kelak. Untuk diriku, aku sangat berhemat. Pengeluaran untuk makan aku batasi maksimal sehari 15K di luar operasional bensin dan keperluan lain. Aku tidak ingin memperlihat sisi perjuanganku untuk bisa mendapatkanmu. Aku sadar, kalau aku bercerita aku hanya akan mendapatkan rasa kasihan. Tapi aku hanya ingin kau peduli padaku. Setidaknya ketika aku sedang sakit, berilah aku support agar aku dapat sembuh dari rasa sakitku. Aku tidak menuntut lebih. Aku hanya ingin engkau peduli padaku dengan tidak merendahkanku, membandingkanku, dan membuatku selalu cemburu.
Maafkan aku, aku hanya terlalu khawatir. Terima kasih kau masih mau menerimaku hingga saat ini. 
Maaf apabila tulisan ini kemana-mana, pikiranku sedang tidak bisa diajak fokus pada satu permasalahan.

Komentar