BERAKHIRNYA KESENGSARAAN

        Mentari yang disambut dengan siulan ayam jantan dengan kepakan sayapnya sebelum bersiul menambah suasana pagi menjadi meriah. Pemuda dengan malasnya bangun dari tikar yang sudah robek. Ada sedikit rasa kecewa dari raut wajahnya. Hari ini dia merasa pusing yang amat sangat, namun dia harus tetap memungut ilmu yang masih tercecer di sekolah. Air hangat tak mampu mengalahkan rasa pusingnya. Untung, tempat dia memungut ilmu tidak jauh dari kediamannya. Dia berjalan lemah keluar rumah dengan seragam putih abu-abu yang dilengkapi dasi dan topi almamater. Walaupun tidak disetrika, seragam tersebut terlihat rapi dan cocok dipakai pemuda tersebut yang kurus dengan rambut yang bergelombang. Tapi sial, dia terlambat mengikuti upacara bendera Hari Senin. Dia harus rela menunggu di luar pagar untuk menunggu upacara selesai. Ada beberapa teman yang bersamanya, namun mereka seakan-akan tidak mau mendekati pemuda tersebut.
“Ssst… ada anak kere, udah kere telat lagi. Mau jadi apa nanti dia? Hahahaha, kalau kita kan anak orang kaya, jadi kita telat nggak apa-apa, ya nggak bro?”, kata teman disampingnya dengan nada pelan namun terdengar oleh teman lainnya. “Hahaha….”, semua teman yang mendengarnya langsung tertawa. “Hust… upacara masih berlangsung, diam!”, bentak seorang guru dengan nada pelan penuh ketegasan. Hati pemuda tersebut teriris oleh pisau kata yang sangat tajam. Tetesan airmatanya ia tahan hingga matanya berubah menjadi merah. Sampai upacara selesai ia tetap menahan rasa sakit yang mendalam. Kepala pusing dan hati yang teriris oleh pisau kata. Selanjutnya ia harus bertanggung jawab atas kelalaiannya, yaitu terlambat, dengan hukuman berat yang akan diberikan guru kepadanya.
Seorang teman sedang menghibur seorang anak kecil

“Harusnya kamu itu sadar, kamu itu siapa. Tapi kenapa kamu membuat malu dirimu sendiri? Kenapa?”, kata guru sebelum member hukuman. Pemuda tadi hanya bisa menundukkan kepala, menahan rasa malu yang amat sangat. “Sekarang jalan jongkok 5 kali putaran mengelilingi halaman sekolah, lewat tepi!”, tambah guru tersebut yang terlalu lama menunggu jawaban dari pemuda tadi. Pemuda tersebut meletakkan tasnya kemudian dia berjalan jongkok , hingga putaran ketiga kakinya terasa lemah, dan kepala berdenyut kencang. Namun, konsekuensi tak dapat diajak kompromi, lima ya tetap lima. Rasa lapar karena belum sempat sarapan menambah rasa sakit yang dideritanya. Dalam hati ia menjerit, ”Ya Allah, apa ini cobaan darimu? Ampun Ya Allah, ampun. Hamba tak kuasa menanggung semua ini, Ya Allah. Sakit kepala ini sangat mencengkeram, hati ini tersayat oleh perkataan, kaki ini lemah hampir tak kuasa berjalan, dan perut ini terasa menendang dan mengikat ususku Ya Allah”. Tanpa tersadar, ia meneteskan air mata, menandakan kelemahan seorang lelaki yang kuat menahan beban hidup. Setelah sampai putaran kelima, ia seka air mata yang menetes di pipinya. Lalu berjalan mendekat pada guru yang menghukum. “Besok jangan diulangi lagi!”, kata guru sambil mencatat nama pemuda tersebut. “Ya Pak, Ingsya Allah”, kata pemuda itu lalu mengambil tas dan berlalu dari hadapan guru penghukum tadi.
Dalam perjalanan  menuju kelasnya yang berada di lantai dua dia bergumam dengan menepuk jidatnya. “Ya Allah, ini jam pelajaran Bu Dina, mati aku. Ya Allah bagaimana ini? Ah, tak apalah, aku harus berani tanggung resiko.”. Ya, Bu Dina memang terkenal dengan kedisiplinan yangharus selalu dijaga, mulai dari kerapian rambut sampai kaki. Berjalan di tangga membuat pemuda merasa sangat capek. “Assalamu alaykum”, pemuda tadi membuka pintu kelas lalu terlihatlah sosok manusia sangar dan tatapan mata penuh wibawa yang sangat tajam. Lalu, pemuda tersebut berjalan masuk dan menghadap Bu Dina.
“Adam, kenapa kamu telat masuk? Terlambat? Kenapa terlambat? Kesiangan? Kenapa kesiangan? Dasar anak nggak punya disiplin!”. Pertanyaan yang bertubi-tubi tak mampu dijawab oleh pemuda tersebut. Dia hanya menundukkan kepala, dalam hati pemuda itu berkata, “Andai ibu tahu, setiap malam aku harus jualan di terminal sampai jam 2, Bu”.
“Sekarang, sebagai hukuman karena kamu telat masuk pelajaranku. Kamu harus skotjam 20 kali, setiap hitungan 1 kamu harus skotjam 5 kali. Sekarang!”
“Satu, dua, tiga, empat, lima”
“Satu”
“Satu, dua, tiga, empat, lima”
“Dua”
Begitulah Bu Dina, tidak pandang siapapun  dihadapannya. Sekali salah, hukuman tetap berlaku. Hukuman yang diberikannyapun selalu berat, sehingga membuat muridnya jengah dan taut padanya. Kali ini pemuda tersebut harus skotjam 20 kali, dalam satu hitungan harus diikuti 5 kali skotjam. Ini sama halnya dengan skotjam 100 kali. Sangat lelah, itulah yang pemuda tu rasakan, entah pada siapa ia harus mengadu. Kali ini ia merasakan lelah yang amat sangat. Hampir sepuluh menit ia melakukan skotjam. Selesai sudah hukumannya, dia diperbolehkan untuk mengikuti pelajaran. Dia duduk di kursi dengan tubuh yang sangat lemah. Dia meletakkan kepalanya diatas meja untuk meringankan rasa pusing dikepalanya. Namun tanpa tersadar dia tertidur sangat pulas, hampir lima menit ia tertidur. “Adam!”, bentak Bu Dina dengan nada yang sangat keras. Sontak pemuda tersebut kaget dan tersumbul keatas menghadap Bu Dina, teman-temannya menahan tawa karena takut terkena omelan Bu Dina. “Keluar kelas, langsung menuju halaman, hormat pada bendera merah putih, sekarang!”. Pemuda tersebut bergegas menuju ke halaman lalu mendekat ke tiang bendera lalu hormat. Hampir setengah jam ia hormat di tengah-tengah terik matahari. Pusing di kepala sudah tidak ia tahan, tangan kanan yang digunakan untuk hormat sudah tak mampu ia naikkan lagi. Kaki yang digunakan untuk menyangga sudah lemah. Rasa lapar menambah deritanya. Rasa panas seakan-akan memukuli wajahnya. Tiba-tiba tubuhnya tersungkur ke belakang. Dia pingasan, namun tak ada seorangpun yang menolingnya, karena tak ada yang tahu kalau ada seorang pemuda yang tergeletak di halaman.
Setelah beberapa menit berlalu, petugas kebun yang sedang menyirami bunga mengetahui seorang pemuda yang tergeletak di halaman. Tukang kebun tersebut langsung berlari dan menggotong pemuda tersebut dengan rasa yang sangat khawatir ke ruang UKS. “Aduh, bagaimana ini, panas sekali tubuhnya, nafasnya juga sudah semakin jarang. Apa aku bawa ke rumah sakit ya? Ah, bagaimana ini”. Lalu ada seorang guru yang kebetulan lewat di depan UKS. “Pak, tolong pak, siswa ini tadi pingsan di halaman sekolah, mungkin sudah sangat lama, tubuhnya panas sekali”. “Hah, Adam, kok bisa begini pak kebon ? Kenapa bisa pingsan di halaman sekolah? Tidak mungkin kalau dihukum, dia siswa yang rajin kok. Ayo kita bawa langsung ke rumah sakit, ini nafasnya juga sudah semakin jarang”, kata guru yang di tarik oleh tukang kebun dan kebetulan dia kenal dengan pemuda tersebut. Rasa khawatir antara guru dan tukang kebun semakin memuncak, saat sampai di rumah sakit, mereka bingung. Apa yang harus mereka lakukan, guru yang mengenal pemuda itu tahu bagaimana sepak terjang kehidupan pemuda itu yang tinggal sendiri dengan neneknya yang sudah tua sekali.
“Gimana Dok? Dia tidak apa-apa kan?”, kata guru yang menyambut Dokter yang keluar dari pintu UGD. “Sebelumnya saya minta maaf pak, tapi kami telah berusaha sangat keras, siswa tersebut terkena serangan tumor ganas di kepalanya, perutnya sangat kosong, mungkin dia belum makan, lalu tubuhnya sangat lemah, kemungkinan besar tubuhnya digunakan untuk berbuat sesuatu yang sangat berat yang melebihi kemampuannya. Dan terakhir yang bisa saya katakan, saya turut berduka cita pak”, jelas Dokter lalu pergi begitu saja. Guru dan tukang kebun yang mendengar penjelasan Dokter tadi meneteskan airmata. Guru tersebut mencari sandaran bangku untuk ia duduki. “Kita terlambat pak, kita terlambat, kita telah membunuh seorang siswa yang berjuang keras mempertahankan hidupnya dan neneknya. Dia adalah siswa yang tak kenal rasa marah, lelah, dan malu jika berhubungan dengan kehidupan”, kata guru sambil memukul-mukul tembok. Lalu ia mengeluarkan HP, dan menulis sms yang berisi pemberitahuan bahwa ada murid yang meninggal yang akan dibroadcast ke seluruh guru. Semua guru mendapatkan sms, dan mengucapkan “Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”. “Adam….. maafkan aku nak, aku yang telah menghukummu sangat berat, maafkan aku”, kata Bu Dina dengan tetesan air mata saat membuka pesan dari Guru yang berada di Rumah Sakit. “Kalian kerjakan dulu soal yang ibu berikan tadi, ibu ada urusan sebentar”, perintah Bu Dina yang masih meneteskan air mata, membuat seluruh siswa kebingunan dan bertanya-tanya. Bu Dina bergegas mengambil motor di parkiran lalu menstarter motor dan pergi menuju rumah sakit. Doa yang diminta oleh pemuda tadi telah dikabulkan oleh Tuhan. Tuhan telah menghilangkan penderitaan yang di derita oleh pemuda tadi. Sekarang tak ada penderitaan yang sangat menyengsarakannya, yang ada hanya senyuman di alam keabadiaan.

Komentar

Unknown mengatakan…
sak joseeeee

Postingan populer dari blog ini

Susahnya Nulis di UC News

Khawatirku Yang Berlebih