Bukan Sekedar Tulisan
Malam ini, tepat malam jumat aku memukul-mukulkan jari diatas keyboard untuk memunculkan karakter-karakter yang dapat dibaca. Bukan sekedar dibaca, namun juga sebagai renungan diri ini untuk mensyukuri juga entah apa penyebutannya. Aku yang notabene dulu sebagai orang inspirator bagi kawan-kawan di desa, kini menjadi tokoh yang kekurangan inspirasi di kota. Kawan-kawanku di kampung sekarang mampu menulis dengan baik bahkan dengan diksi yang sangat indah. Perkenalannya dengan tokoh-tokoh penulis yang sudah melegenda di dunia seniman pun sudah dijamahnya. Itu untuk yang di kampung.
Bulan pada malam hari ini tak mau nampak, mungkin karena besok adalah awal bulan, jadi bulan masih malu untuk mau menampakkan wajah indahnya. Layaknya diri ini, masih malu-malu untuk menampilkan kelebihan yang ada, karenanya hilang satu persatu bakat yang dimiliki diri ini. Apa yang menyebabkan ini semua terjadi? Entahlah, rasa malas atau rasa apa juga belum tahu. Tapi hati ini berkata dengan yakin kalau penyebabnya adalah rasa malas. Sebenarnya bukan ini yang ingin aku tulis. Ada permasalahan yang lain yang perlu aku tulis dalam blog tentang kehidupan ini.
Tepat hari ini, sahabatku telah lahir di dunia ini 20 tahun lalu. Aku tidak tahu kalau ini adalah hari kelahirannya. Kenapa? karena aku tak mau mencari tahu. Itu adalah kuat yang aku miliki sekarang, yah aku menganggapnya sahabat tapi aku tidak tahu tanggal berapa kelahirannya? Apakah pantas aku disebut sahabat kawan-kawan? Tak apalah kalian menghujatku, memang ini adalah kesalahan terbesarku kawan-kawan. Lalu aku berusaha mencari sebuah video dari youtube untuk aku berikan kepadanya agar setidaknya dia melihat kalau juga ingin mendoakannya. Dia bilang terharu dengan video tersebut, aku malah sedih, karena bukan itu yang ingin aku kirim, aku ingin mengirim dari editanku sendiri, setidaknya aku ada usaha untuknya. Apakah aku termasuk orang-orang tak tahu diuntung kawan? Ah, entahlah itu pendapat kalian, kalau pendapatku IYA besar, karena dia mau berbuat apapun untukku. Sedangkan aku? video aja milik orang.
Oke, itu renungan pertama, yang selanjutnya adalah kesalahan terbesar dalam hidup ini. Salah satu keluarga perantauanku sedang memperingati kematian ibunya yang ke seribu, aku yang notabene dia ketahui paling bisa mengaji malah tidak hadir dalam peringatan tersebut. Alasanku adalah ingin melamar kerja, tapi apa yang kulakukan sebenarnya? Aku hepi-hepi dengan temanku yang lain. Keluarga macam apa aku coba? Bersenang-senang di atas luka saudaraku sendiri? Kali ini kalian boleh menghujatku habis-habisan kawan. Memang benar, awal niatnya ingin melamar kerja, tapi tidak ada orang yang ingin kami temui, akhirnya kami mampir ke "Fresh Hasan" untuk membeli es krim. Harusnya kan tidak perlu lama-lama. Kenapa aku malah lamanya minta ampun? Malahan aku sampai tidak sadar kalau malam ini ada yasinan dan tahlilan. Ah, lalu aku berbohong kepadanya kalau aku sudah mendoakan ibunya sehabis sholat isya tadi. What The Hell of me? Betapa jahannamnya diriku ini, maafkan aku wahai sahabat dan saudaraku, aku masih belum bbisa menjadi orang baik untuk kalian.
Ini akan menjadi renungannku di malam ini, semoga aku bisa menjadi lebih baik dari ini untuk kalian wahai sahabat dan saudaraku. Doakan ya....
Komentar