Julukan Peninggal Laporan

     Sore itu menjadi saksi bahwasannya aku sudah bulatkan tekad untuk menuju ke Jepara. Lokasi yang amat jauh jika diukur dari posisiku sekarang. Semarang-Jepara bisa ditempuh selama 2-3 jam dengan motor dengan indikator tak ada kemacetan. Selesai menjalani praktikum pengamatan ikan yang cukup lama, aku bersiap dengan teman gendutku serta teman satunya lagi yang asli Jepara. Tujuanku ke Jepara bukanlah untuk liburan maupun bermain, namun rolling kepanitiaan acara Rapat Kerja Nasional yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Perikanan. Selain itu aku juga berniat ingin berkenalan dengan teman-teman luar kampusku, setidaknya bertukar pikir untuk menambah wawasan. Sekitar pukul 8 malam kami sudah siap gowes. 
Gambar oleh: Seorang teman waktu
ngerjain laporan
    Sesampainya disana, aku sudah disambut oleh panitia lainnya. Mereka nampak sangat kelelahan, kutengok jam, oh ternyata sudah sangat malam sekali, dan mereka adalah orang-orang yang belum pernah rolling pergantian kepanitiaan, pantaslah jika mereka sangat lelah. Maka dari itu, aku merasa setidaknya kehadiranku disini bisa membuat mereka beristirahat sejenak agar esok tidak drop. Setelah bersalam-salaman aku melihat Ketua Panitia yang wajahnya sudah babak belur. Sungguh deritanya derita, jarang tidur muka babak belur eh motor juga ikut hancur. Mungkin tiada peribahasa yang mampu menggambarkan keadaan beliau. Aku disambut olehnya, ditawari makan. Tak nampak rasa kelelahan di wajahnya, mungkin disembunyikan dengan senyuman. Namun aku sangat-sangat tahu bahwa beliau sangat-sangat kecewa dengan para panitia yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik. 
     Sehabis makan, aku ngobrol-ngobrol ringan dengan para panitia, selain dari panitia ada juga orang-orang luar panitia yang ikut nimbrung. Mereka disatukan oleh rokok dan kopi, sayangnya aku bukan perokok, jadi aku bersatu dengan mereka melalui kopi. Banyak informasi yang kudapat dari ngobrol ringan ini, tak jauh beda dengan diskusi-diskusi asik yang sering aku baca di novel. Mungkin jam sudah lelah berdetak mengingatkanku untuk tidur, sehingga suaranya tak terdengar lagi, atau mungkin sudah mengaku kalah dengan suara tawa kami yang luar biasa. Aku sudah lelah menunggui mereka, mataku sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Aku ijin istirahat duluan.
    Malam sudah terlewat, anginpun sudah berhembus sepoi-sepoi tidak seperti malam tadi yang sangat dingin menusuk rusuk. Jadwal kali ini adalah tanam mangrove di daerah pesisir pantat pantai. Mangrove sudah di atas mobil box, siap untuk dibawa ke pesisir. Sekitar 10-15 menit kita baru sampai ke lokasi, semangat teman-teman dalam menanam sangat membara, mungkin dari sebagian mereka ada yang baru kali ini menanam mangrove. Di tengah-tengah kesibukanku dalam menanam, aku dicari ketua panitia. "Ada job lain untuk kamu yang harus kamu selesaikan sekarang!", perintah ketua panitia dengan nada yang halus tanpa ada unsur paksaan. Aku langsung sigap menerima tugas ini. 
    Selesai tugasku, selesai juga teman-teman yang menanam mangrove, saatnya istirahat. Inilah yang sangat unik, aku bertemu dengan seorang gadis cantik, berkerudung, imut. Uniknya dari dia adalah dia mampu meramal diri kita dengan melihat goresan-goresan yang ada di tangan kita. Sungguh unik bakat ini, sudah ada 3-5 teman yang mencoba untuk diramal kepribadiannya, hasilnya mereka menganggukkan kepala. Wow, amazing. Namun aku tidak ikut untuk diramal, bukan ranahku dalam ramal meramal, hehehe bukan sok suci loh. Sebenarnya alasanku cukup sederhana untuk tidak mau diramal, karena dia cantik aku takut dipegang olehnya. Aku sebenarnya takut dengan wanita-wanita cantik, biasanya aku akan menjaga jarak dengan gadis-gadis cantik. Caligynephobia, mungkin itu istilah kerennya.
    Oke lupakan masalah diatas. Kembali ke topik, setelah acara itu semua berisirahat, membersihkan diri dari lumpur, menyiapkan agenda selanjutnya. Agenda selanjutnya adalah field trip. Maka dari itu, hampir semua teman merubah penampilan mereka menjadi stylish beud, maaf bukan bermaksud sok alay loh. Aku merasa jasaku sudah tidak dibutuhkan dalam agenda kali ini, jadi aku minta ijin pada ketua panitia untuk pulang terlebih dahulu karena ada agenda akademik yang harus saya selesaikan. Yah, aku tak perlu berdandan stylish untuk kembali ke semarang, cukup dengan jaket dan sarung saja sudah cukup.
     Dalam perjalanan pulang (masih bersama dua orang saat keberangkatan) aku tidak tahu kalau temanku memotret perjalananku. Angle yang cukup bagus jika dilihat dari perspektif sudut pemotretan, karena efek yang akan dihasilkan sangat menakjubkan. Fokus pada objek dan blur full background membuat efek foto secara alami tanpa editan. Itu bisa dilakukan apabila kamera yang digunakan cukup keren. Lalu foto yang sudah diambil diupload ke grup kelas dengan caption yang menurutkku sangat menggelitik. "Pejuang Jepara Peninggal Laporan". Komentar-komentar penghuni grup pun berhamburan. Luar biasa sekali komentar mereka, ada yang mirip komentator sepakbola, moto gp, F1 bahkan ada yang mirip Mario Teguh. Satu kata yang membuat rasa tergelitik ini berubah menjadi sebuah tamparan. "Egois!", ini membuatku tersungut (sebenarnya biasa saja sih) rasa amarahku. Namun dalam keadaan santai, aku membuat sebuah status yang panjang lebar, intinya tentang keegoisan.
    Ini adalah masalah prioritas, karena aku mendapatkan ilmu dari temanku juga bahwasannya ada tiga prinsip yang bisa kita pilah dan pilih sehingga kita tahu mana yang harus diprioritaskan. Pertama mendesak dan penting, kedua mendesak tapi tidak penting, ketiga tidak mendesat tapi penting. Itulah ilmu yang kugunakan saat aku menuju Jepara waktu lalu. Tapi ya sudahlah, semua sudah berlalu, kini saatnya melanjutkan drama yang menarik untuk bisa kujadikan bahan tulisan dan kenangan. Hingga saat ini masih saja julukan itu diberikan kepadaku, hahaha. Aku tidak marah dengan julukan tersebut malah aku merasa bahagia karena teman-teman masih menganggapku ada.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Susahnya Nulis di UC News

Khawatirku Yang Berlebih

BERAKHIRNYA KESENGSARAAN