Senyumku Kebahagianmu
Malam minggu kali ini ada sedikit gangguan pada tubuh kecil ini. Radang mendera tenggorokanku, pilek menyumbat hidungku, suhu tubuh yang tidak stabilpun menyertainya. Sungguh penuh dengan sesuatu yang tidak ingin kuhendaki. Namun, jadwal kerja tetap harus dilaksanakan, jangan sampai bolos! Kumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk masa depan. Di waktu kerja, harus pasang muka drama alias topeng karakter. Dalam tokoh ini aku adalah orang periang yang selalu terlihat riang. Jadi tidak ada alasan untuk menunda penjemputan rizki.
Sering teman-temanku bertanya, mengapa kau selalu tersenyum? Dulu aku sempat berpikir, alasan apa yang menurutku paling menarik agar jawabannya juga asik didengar di telinga. Berbagai jawaban berbeda sudah kulontarkan namun tetap saja tidak srek dalam hatiku sendiri. Beberapa hari kemudian, kutemukan jawaban asik yang sangat asik didengar. Apa itu? Cukup simple sih. Alasannya karena "tersenyum adalah ekting paling mudah kulakukan". Bayangkan saja, hanya dengan menyunggingkan bibir keatas, sudah mampu meluluhkan hati orang lain, tanpa kata-kata lho. Setiap kali kta dilihat orang, berikan saja senyuman, pasti orang tersebut akan mengira kita adalah orang baik. Begitulah menurutku alasan paling asik.
Selain itu, aku kekurangan referensi kalau aku harus bermuka kusut, cemberut, bringas, dll yang kurang asik dipandang. Aku harus belajar cuek, menolak kesedihan, jahat, bahkan harus berlatih tertawa ala bajak laut. Ah, membosankan sekali yang seperti itu, kenapa harus kupelajari hal-hal seperti itu? Maka dari itu, secara insting aku lebih senang ekspresi tersenyum. Dengan senyum aku tidak perlu belajar menipu, karena menurutku menipu adalah kejahatan yang paling jahat. Dari menipu saja aku bias mengembangkannya menjadi kejahatan yang luar biasa. Hahaha...
Bukan, bukan untuk itu aku melakukannya. Tentu saja aku menggunakan ilmu itu hanya ketika terdesak. Alasan lain aku lebih suka tersenyum adalah aku sudah melewati fase kesengasaraan paling sengsara di dunia ini. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk bersedih lagi karena kesengsaraan. Alasan terakhir adalah hanya ingin membuat kalian merasa bahagia dengan senyumku yang terlihat ikhlas ini. Karena senyumku adalah bahagiamu.

Komentar