Sambat Penghalang Nikmat, Tapi Gak Sambat Sesak di Pantat.
Jujur saja, malam ini aku tidak bisa tidur nyenyak. Bukan karena memikirkan dirinya yang sekarang sudah merantau jauh disana. Bukan karena rindu yang tak mungkin lagi bisa bertemu karena virus corona yang sudah tersebar dimana-mana. Bukan pula karena masalah skripsi yang tak kunjung kusentuh lagi.
Ini soal pekerjaan yang sedang aku jalani. Ya, sebuah pekerjaan pengisi waktu senggang tapi malah menguras seluruh waktuku. Bangun pagi jam 8 harus sudah sampai disana, menyiapkan segala kebutuhan untuk para pelanggan. Pulang jam 6 petang, kadang jam 8 menunggu reda datang di kala hujan.
Dulu aku sudah sempat meminta break dari pekerjaan ini. Namun, selang beberapa minggu mereka mendatangiku lagi untuk membujuk diriku ikut bekerja dengan mereka lagi. Oh iya, kalian belum tau ya aku kerja apa? Mau tau? Oke aku akan jawab, aku bekerja disana sebagai kurir. Ya, kurir si pengantar pesanan ke rumah pelanggan. Tak perlu kujelaskan barang apa yang kuantar. Intinya aku kurir!
Mereka menawarkan gaji yang lebih besar dari sebelumnya. Lalu aku diberikan kesempatan dua hari untuk menjawab. Namun selama dua hari itu, salah satu pemilik usaha tersebut (sebut saja Mas B) selalu mengontakku untuk mau kerja lagi. Ya, karena Mas B inilah aku mau untuk kerja jadi kurir lagi (sebelumnya aku resign karena aku merasa kerja disana sudah sangat tidak manusiawi, ini terbukti dari rekan kurirku satunya, dia resign duluan). Aku menerima tawaran dari Mas B karena aku merasa utang budiku kepada dia sangatlah besar.
Oke, selama satu bulan sudah aku menjadi kurir. Waktu gajian pun tiba. Tidak sesuai ekspektasi, mereka menurunkan gaji yang telah mereka tawarkan sendiri kepadaku waktu membujukku. Oke, aku terima saja. Ya karena aku memang tergolong orang jawa tulen (narimo ing pandum). Namun karena masih saja terasa mengganjal di beberapa hari kemudian, aku bertanya kepada Mas B (aku akrabnya dengan beliau). "Mas, kok gajiku segini. Katanya mau dibayar lebih tinggi dari ini hehe?", tanyaku sambil ketawa kecil. "Oh iya, sisanya buat operasional motor. Kayak bensin, servis dll", jawabnya tegas lugas. Aku meng"oh"kan bertanda paham, tapi hatiku masih mengganjal. Wkwkwk, maap ya gaes. Aku emang orangnya suka memendam perkataan dulu.
Oke, hampir lupa soal gaji ini beberapa hari kemudian aku ditanya pemiliki yang lain (oh iya, perusahaan ini punya 3 pemilik, yaitu Mas A, Mas B, sama Mas K). Mas K bertanya padaku, "Dam, kekurangan gaji belum dibayarkan ya?". Dalam hati aku bertanya-tanya, "Hah? Belum dibayarkan? Berarti emang harusnya aku dapat full dong". "Iya mas, belum", jawabku datar.
Oke disini aku menangkap bahwasannya ada sesuatu yang tidak beres.
Hari berikutnya Mas A kayak nyindir tapi kayak bercanda juga, "Wah, motor kantor dipake terus nih. Pake duit bensin kantor lagi". Lagi-lagi dalam hati aku berkata, "Hah? Katanya bensin udah dipotong dari gajiku? Gimana sih anjeng". Asli, aku jengkel banget mendengar peekataan ini. Aku kan gak pake motor itu untuk urusan pribadiku. Semua yang kulakukan bersangkutan dengan kantor. Hmm, sebel banget tau dikatain kayak gitu. Hari berikutnya Mas K bilang untuk ikut bantu operasional motor. Dia bilang karena aku juga make motor itu. Helloooo... What the fuck is this. Aku gak pernah ya make motor kantor untuk keluar kota atau kemanapun. Paling kepake cuma buat beli makan di luar kosan. Ah, makin nambah sebelnya.
Oke, sampe sini aku masih nahan buat gak cerita ke mereka. Kubiarkan omongan mereka, karena aku narimo ing pandum. Dua bulan terlewati, akhirnya aku gajian untuk yang kedua kalinya. Kalian tau apa yang terjadi? Gajiku turun cok. Sumpah, aku kesel banget nget nget. Katanya karena aku ijin 5 hari gak berangkat kerja. Hey, aku ijin karena orangtua menyuruhku untuk pulanglah. Aku udah 5 bulan gak pulang ke kampung halaman. Dan aku pulang cuma 3 hari. Oh shit, gak bener ini.
Selepas itu, aku mengumpulkan niat untuk menyiapkan runtutan keluh kesahku alias sambatku yang udah tak pendam selama dua bulan ini ke Mas B. Aku bilang ke beliau karena pasti beliau menganggap ini sebuah keluhan bukan protes karena gaji kecil. Soalnya kalo ke Mas A dan Mas K udah pasti dibilang gak terima dengan apa yang udah diberi.
Shitlah, di awal kalian memintaku untuk jadi kurir. Tapi jobdesk yang aku kerjakan gak cuma mengantar cok. Gaji yang kau janjikan di awal juga gak kalian tepati. Padahal kalo aku mau, aku bisa nyari kerja yang lain yang gajinya setara umr. Lah kalian, aku udah kerja seharian penuh, jobdesk nambah, gaji setengah umr, itupun gak full. Kalian itu emang kapitalis taik. Sudahlah, aku tetap berdoa semoga jalan kalian lebih baik dari ini. Dan lebih memanusiakan manusia.
Komentar