Wanita Tangguh Calon Imam
Sudah berapa bulan aku tidak menulis ya? Pastinya sudah sangat lama. Ingin tahu faktornya? Yap, karena aku menulis di platform lain. Di sosial media yang aku miliki. Aku lebih sering menulis disana. Namun, aku merasakan bahwasannya itu tidak bagus, karena kebanyakan tulisan di media sosial berisi keluh kesah dan tentunya sambatan-sambatan. Hahaha...
Hari ini aku mau bercerita tentang seorang wanita yang memiliki mental luar biasa tangguh. Darinya aku belajar apa arti bertahan dari segala macam rintangan dan tantangan. Ingin tahu dia siapa? Hehe, dia adalah wanita yang ada di postingan sebelum ini dengan judul "Konco Mesra".
Cerita ini akan kuawali dari tempat biasa aku nongkrong di malam hari, angkringan. Waktu itu aku berjanji padanya kalau aku akan menceritakan seluruh latar belakangku padanya. Tiba di angkringan kutanyakan padanya perihal pesanannya untuk menemani obrolan yang sepertinya akan sangat lama. "Sama kayak kamu aja gak apa-apa", jawabnya. Oke akhirnya aku pesankan ia es jeruk manis. "Mbah, es jeruk manis dua ya", kataku pada kakek yang berjaga di angkringan tersebut.
Kami duduk dan kumulai cerita perjalanan hidupku hingga tanpa terasa jam sudah melewati angka sembilan. Dalam beberapa kesempatan aku mencuri pandang untuk melihatnya (yah kalian pasti sudah tahu dong kalau sebelumnya baca tulisan-tulisanku) memastikan bahwa ia tidak meneteskan air mata. Aku berkali-kali bilang padanya untuk tidak ikut hanyut dalam ceritaku.
Setelah aku selesai bercerita, iapun bertanya, "Kau mau dengar ceritaku juga? Soalnya aku gak akan cerita kalau kamu gak nanya". Hahaha, sebenarnya aku tidak ingin ikut campur dengan kehidupan orang lain, tapi karena aku berharap bahwa dia nantinya bukanlah orang lain di hidupku makanya aku memberanikan diri untuk bertanya. "Boleh, silakan bercerita, tapi kalau sungkan sambil berjalannya waktu saja nanti kau ceritakan sepotong demi sepotong", kataku sambil meminum es jeruk tadi.
Dia memulai cerita, menurutku kisahnya lebih kelam daripada kisahku. Sedari kecil sudah hidup sendiri dengan ibunya, di umur yang seharusnya masih harus bersama sang ibu ia ditinggal ibunya merantau dan dirawat oleh neneknya. Baru di awal saja aku hampir tidak kuat membendung airmata. Aku tidak tahu, entah mengapa aku mudah sekali untuk menitikkan air mata jika berhubungan dengan keluarga. Eits, karena di tempat umum akhirnya aku tambah lagi bendungannya agar tidak jebol. Ia bercerita hingga akhirnya sampai pada titik ini, bisa duduk bersamaku bercengkrama dan meminum es jeruk. Ah, kisahmu lebih kelam dari kisahku wahai wanita.
Hari berlalu dengan warna-warni kisah yang terlalu banyak apabila ditulis disini. Singkat cerita, malam ini ia bercerita kalau ia pulang ke rumah dengan kepala yang sangat pusing. Bahkan kemarin ia membeli stok obat sakit kepala untuk meringankan rasa pusingnya. Seandainya diperbolehkan, aku akan memeluknya lalu mengusap-usap kepalanya. Mempersilakan pundakku untuk dibasahi dengan airmatanya. Ah, aku meneteskan airmata menulis cerita ini. Oleh sebab inilah, aku menganggapnya sebagai calon imamku, karena aku yang cengeng. Entah empatiku yang terlalu sensitif atau bagaimana. Kuatlah wahai wanita tangguh calon imamku.
Komentar