Aku Lelah

Entahlah, aku tidak tahu harus memulai tulisan ini dari mana. Sudah sejak dari malam lusa sikapmu sangat menjengkelkan. Oh, mungkin aku mengira kau sedang mengujiku. Hanya ingin tahu bagaimana responku ketika kau seakan mengajak untuk berdebat. Tapi, emang dasarnya aku yang tidak menyukai perdebatan. Itu terbukti sejak dari aku awal masuk perkuliahan, dimana para mahasiswa baru disuruh untuk saling memberikan pendapat. Aku ditunjuk untuk menjadi perwakilan kelompokku untuk menyampaikan pendapat. Setelah kelompok aku selesai menyampaikan pendapat, ada kelompok lain yang memberikan sanggahan mengenai pendapatku. Oke aku dengarkan lalu aku luruskan mengenai kesalahpahaman penafsiran pendapat kami. Tapi, dia masih bersikeras untuk selalu menyanggah dan menyanggah. Akhirnya, aku tutup pendapat kami dengan kalimat "Mohon maaf, ini bukan debat. Ini pendapat kami, jika diterima silakan apabila tidak ya gak apa-apa". Sontak seluruh mahasiswa dan dosen tertawa. Ya, aku memang tidak suka berdebat kalau memang bukan dalam forum perdebatan. 
Hingga malam ini, kau juga masih membuatku jengkel. Dulu kau bercerita, bahwa aku itu orang slow respon kalau dihubungi. Oke aku evaluasi kisah-kisah dulu, karena memang pada saat itu aku tidak begitu sering memegang alat komunikasi. Aku masih suka dengan buku dan tidur. Lalu setelah kita begitu dekat, aku sangat fast respon. Tapi apa yang kudapat? Seakan-akan hanya aku yang berjuang untuk mempertahankan hubungan LDR (walaupun hanya sekadar komitmen) ini. Iya, aku paham kalau kau pasti punya kesibukan sendiri disana. Tapi apa sulitnya mengetik satu kalimat sebelum kau pergi begitu saja sedangkan aku harus selalu menunggu kau membalas pesanku? 
Aku tahu juga, jika seperti ini orang-orang pasti akan mengira bahwa aku adalah cowok lebay. Tak apa, mereka tidak tahu bagaimana perasaanku, aku biarkan saja. Tapi kau lah yang paling tahu perasaanku padamu, mengapa kau begitu tega untuk melakukan hal itu? Apakah kau sengaja membiarkan hal itu agar aku marah? Ataukah memang kau sudah lelah dengan hubungan yang begini-begini saja? 
Harusnya aku yang lelah, bukan kau. Aku selalu berusaha untuk memahami dan mengerti keadaanmu disana. Aku selalu berbohong bahwa aku disini tidak sibuk, selalu kusempatkan memberikan kabar. Ketika aku akan pergi dan kemungkinan tidak memegang HP, pasti aku mengabari agar kau tak menungguku. Karena aku tahu, menunggu adalah pekerjaan paling melelahkan. Dan itu yang aku rasakan. Aku lelah menunggu. 
Iya aku lelah, sangat lelah. Bukan lelah dalam mencintaimu -karena rasa cintaku sejauh ini masih tetap bertahan padamu- tapi aku lelah karena sikapmu yang tak menghargai usahaku untuk tetap menjaga komunikasi. Dulu aku sudah pernah mengatakan, "kabari kalau memang sedang tidak ingin chattingan, sehingga aku tak perlu menunggu balasa chat darimu". Kau mengiyakan, tapi kau mengulang kesalahan itu bukan cuma dua kali. Aku tetap bersabar, aku mencoba memahamimu, pasti kau sedang ada kegiatan lain yang mengharuskan kau secara tiba-tiba melepaskan alat komunikasimu. 
Ah, sudahlah. Aku tahu, tetap aku yang salah. Karena aku terlalu mencintaimu, sehingga aku dibutakan oleh sesuatu yang remeh seperti ini. Terima kasih telah memberikan kesempatan padaku untuk belajar bagaimana cara tetap mencintai seseorang yang sulit untuk dicintai karena telah mencintai dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Susahnya Nulis di UC News

Khawatirku Yang Berlebih

BERAKHIRNYA KESENGSARAAN